Selasa, 08 Juni 2010

Kumpulan Informasi Mengenai Belanda

Hallo semua.. Apa kabar?!... :)

Senang rasanya bisa berbagi info dengan anda...

Biarpun penampilan blog ini acak adut, yang penting isinya bukan?!

Yapz.. Ini adalah blog saya yang isinya berupa kumpulan - kumpulan artikel apapun mengenai belanda baik budaya, pola hidup, perkuliahannya, cara mendapatkan beasiswa, pergaulan hidupnya, keuntungan yang dapat kita nikmati di sana, kemudahan transportasinya dan aturan - aturan yang terdapat di dalam negara tsb yang insya allah tidak akan memberatkan kita..

Blog ini merupakan hasil riset dari berbagai sumber yang kemudian aku kumpulkan jadi satu. Alhasil kayak gado - gado dech...

Dibaca ya...

Isinya menarik kok.. Terutama bagi anda yang memiliki minat untuk ke sana.

Semoga terwujud ya impiannya.. :)

Maaf ntar low ada kalimat yang di ulang - ulang soalnya blog ini masih dalam bentuknya yang asli.. he.. he..


Studi di Belanda

Open to International Minds

Top of Form

Bottom of Form

Selamat Datang

Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.

Tag: Studi di luar negeri

Apakah kuliah di Belanda mahal?

Wednesday, December 16th, 2009 | Life, Studi di Belanda, Study | Studi di Belanda

Persepsi umum masyarakat tentang biaya kuliah di luar negeri adalah mahal. Untuk bisa memenuhi keinginannya, tak jarang banyak orang jatuh bangun berusaha untuk bisa memperoleh beasiswa. Akan tetapi, tidak semua orang punya kesempatan yang sama memperolehnya. Tapi tahukah kita bahwa banyak cara untuk bisa hidup hemat sehingga kita bisa tetap bertahan dengan biaya yang terjangkau di luar negeri?

Biasanya, perhitungan biaya hidup tergantung dari daya hidup dari mahasiswa yang bersangkutan. 2 komponen utama adalah biaya kuliah (tuition fee) dan biaya hidup (living cost).

Tuition Fee

Biaya kuliah di Belanda memiliki kisaran yang sangat beragam. Untuk tingkat s1 atau Bachelor, besaran biaya kuliah antara 3,500 - 7,000 euro pertahun (sekitar 50 - 101 juta rupiah). Sedangkan untuk program s2 atau master, biaya yang diperlukan sekitar 4,000 - 15,000 euro per tahunnya. Biaya ini sudah nett sehingga tidak akan ada lagi pungutan biaya gedung, biaya SKS atau biaya laboratorium.

Living Cost

Biaya hidup (living cost) di Belanda tergolong moderat dibandingkan wilayah eropa yang lain. Kemudahan mencari bahan makanan Indonesia menjadi sebuah keuntungan yang tidak didapatkan di negara Eropa lainnya. Sebagai contoh, mahasiswa Indonesia di Jerman kalau mencari bumbu nasi goreng ataupun sambel botol, umumnya terpaksa menyeberang ke Belanda untuk bisa bisa memperolehnya. Komponen biaya hidup di Belanda sebagai mahasiswa dapat dijabarkan sebagai berikut:

- Akomodasi, berupa kamar standard yang umumnya terdiri dari tempat tidur single, meja belajar dan lemari cabinet adalah komponen yang terbesar dari total biaya hidup di luar negeri. Alokasi biaya akomodasi bisa mencapai setengah dari total biaya hidup. Harga rata-rata akomodasi di Belanda adalah sekitar 4000-4800 euro pertahunnya, atau sekitar

- Meals, komponen biaya lainnya yang juga sangat penting adalah urusan perut. Perhitungan biayanya berdasarkan survey adalah sekitar 4,000 euro per tahun. Cara menghemat untuk urusan perut ini adalah, dengan memasak sendiri. Cara ini terbukti ampuh untuk mengurangi biaya makan perbulan hingga 30%. Lumayan kan?

- Buku, diperlukan sebagai componen vital yang mendukung mahasiswa dalam menempuh perkuliahan. Buku sebagai sumber informasi yang diakui secara akademis untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di kampus. Berdasarkan survey yang pernah Neso Indonesia lakukan, komponen biaya untuk buku pertahunnya mencapai 600 euro atau 50 euro perbulannya. Namun, banyak mahasiswa yang dapat melakukan penghematan dengan membeli buku-buku second-hand, dari para senior maupun meminjam melalui fasilitas perpustakaan di kampus.

- Insurance, mendapatkan perlindungan di luar negeri memang mutlak. Apalagi, kalau kita terpaksa harus menggunakan fasilitas kesehatan apabila terserang penyakit. Perlu digaris bawahi biaya kesehatan di Belanda sangatlah mahal. Untuk itu keikutsertaan salam program asuransi kesehatan adalah sebuah keharusan. Hal ini juga tertuang dalam ketentuan ketika kita akan mendaftar visa, dokumen keikutsertaan asuransi juga menjadi kompenen yang wajib ada. Biayanya? Sekitar 500 euro untuk satu tahun.

- Transportasi, ada keuntungan ketika memilih Belanda sebagai tujuan melanjutkan pendidikan, karena biaya transportasi yang relatif terjangkau. Mau tau kuncinya? Sepeda! Adalah alat transportasi utama di Belanda. Harga sepeda second-hand berkisar antara 45-140 euro. Dengan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, biaya yang dikeluarkan dari rumah ke kampus tentu saja gratis, dan tentu saja sehat!

Sebetulnya banyak cara untuk menghemat biaya yang dikeluarkan agar bisa mewujudkan impian Studi di Belanda. Sekali lagi, semuanya tergantung kepada gaya hidup kita. Dengan mengetahui gambaran biaya yang dikeluarkan, kita bisa melakukan perbandingan manakah negara yang paling cocok dipilih untuk studi di luar negeri. (ah)

By: Ariono Hadipuro, Nuffic Neso Indonesia

Tags: Biaya Kuliah Belanda, Kuliah Belanda, Studi di Belanda, Studi di luar negeri, Study Abroad, Study in Holland, Tinggal di Belanda

1 Comment1

Dua Bulan di Utrecht University

Thursday, December 3rd, 2009 | Students, Studi di Belanda | Studi di Belanda

musthafa di kampus

Setelah dua bulan menjalani studi di program Master of Applied Ethics Utrecht University, saya mencatat beberapa hal menarik terkait dengan sistem pendidikan tinggi di sini yang dalam banyak hal cukup memberi inspirasi. Sebelumnya, jauh sebelum saya berangkat ke Eropa dan mengetahui bahwa sepanjang satu semester di Utrecht University saya hanya akan mengikuti empat mata kuliah, saya merasa cukup senang karena berpikir bahwa beban studi (akademik) saya tidak akan terlalu banyak. Itu berarti saya akan cukup punya waktu untuk berkegiatan di luar aktivitas akademik, termasuk jalan-jalan. Tetapi ternyata saya keliru.

Empat mata kuliah yang untuk satu semester dibagi dalam dua blok itu (satu blok ada dua mata kuliah) ternyata menyita banyak waktu saya. Setelah menuntaskan blok pertama dan selesai mengikuti dua mata kuliah utama, saya jadi tahu bahwa ternyata tugas-tugas kuliah begitu banyak, seperti juga halnya bahan-bahan bacaan yang mesti tuntas dilahap sebelum masuk kelas.

Tugas-tugas itu telah terjadwal dengan rapi sepanjang 9 pekan di blok pertama. Begitu juga bahan bacaan. Sebenarnya, saya sudah menerima informasi tentang satu mata kuliah menyangkut gambaran umum, tujuan, alur, referensi, dan tugas-tugas, tepat 20 hari sebelum perkuliahan dimulai-saat itu saya masih berada di Madura. Dosen pengampu salah satu mata kuliah itu mengirimkannya via email ke seluruh mahasiswa, lengkap dengan peta tempat kuliah, toko buku, dan info pendukung lainnya.

Inilah catatan pertama saya: perkuliahan di sini dirancang dengan sangat matang. Dosen menyiapkan semuanya dengan sangat baik dan terencana. Dan mereka sangat disiplin dengan rencana tersebut, sehingga aktivitas perkuliahan dapat berjalan dengan sangat baik.

Dari sisi mahasiswa, perkuliahan di sini menuntut kerja keras dan kemandirian. Jika tak membaca bahan bacaan atau artikel yang diwajibkan untuk satu pertemuan tertentu, jangan harap kita bisa benar-benar paham dengan apa yang sedang dibicarakan di kelas. Kelas di sini bukan dirancang untuk menambah stok pengetahuan baru. Kelas adalah ruang untuk mendiskusikan artikel relevan yang sudah ditentukan sebelumnya dalam daftar referensi, dan dosen menjadi pengarah dan mitra yang menawarkan alur dan alternatif.

Memang, pada tataran ide, hal semacam ini mungkin bukan sesuatu yang baru. Dahulu, di dunia pendidikan Indonesia ada istilah CBSA, atau Cara Belajar Siswa Aktif. Sayangnya, hal semacam ini, bahkan di tingkat perguruan tinggi pun, baru lebih sebagai teori saja. Di tingkat praktik, sulit sekali kita menemukan sistem belajar semacam ini. Karena itu, menjalani suatu proses belajar yang benar-benar menuntut sikap aktif seperti ini buat saya adalah sesuatu yang baru, menarik, dan menantang.

Inilah catatan kedua saya: sistem kuliah di sini, paling tidak dari pengalaman saya dua bulan ini, memberi ruang dan bahkan menuntut sikap aktif dari mahasiswa.

Dengan jumlah mata kuliah yang relatif sedikit dalam satu semester, saya juga mencatat bahwa tradisi akademik di sini adalah memberi kesempatan yang cukup leluasa untuk menggali suatu tema hingga cukup mendalam. Dengan kata lain: terfokus. Mata kuliahnya saja sudah cukup spesifik. Dalam blok pertama, misalnya, saya mengikuti dua kuliah dengan nama Ethical Theory and Moral Practice dan satu lagi Human Dignity and Human Rights. Hasilnya tentu saja lebih jelas, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang tema tertentu.

Setelah saya telusuri, ternyata hal semacam ini tidak hanya berlaku di tingkat program magister. Salah seorang teman sekelas saya yang orang Belanda kebetulan berlatar belakang pendidikan S1 jurusan filsafat. Menurut dia, kuliah di S1 di sini juga demikian adanya: satu semester terdiri dari empat mata kuliah.

Saya beruntung telah belajar bersama teman-teman kelas yang berjumlah sekitar 20 orang dengan latar yang sangat beragam. Mereka berasal dari berbagai negara: Belanda, Amerika, Kanada, Italia, Serbia, Slovenia, Italia, Afrika Selatan, Bangladesh, dan Cina. Karena jurusan saya terbilang interdisipliner, latar belakang studi mereka juga beragam, tak hanya filsafat. Ada yang kedokteran, hukum, turisme, ekonomi, dan politik. Dengan aneka latar itu, di kelas kami dapat berbagi banyak hal berdasarkan perspektif masing-masing.

applied-ethics-dinner

Dari segi usia, mereka sangat beragam. Beberapa masih berumur 23 tahun, belum lama menyelesaikan studi S1. Tapi ada juga yang sudah berkepala lima-mungkin seusia dengan sang dosen. Yang menarik, mereka yang sudah cukup lanjut itu mengikuti program ini bukan semata untuk meraih gelar, tapi tampak karena benar-benar haus akan ilmu dan pengalaman akademik. Salah seorang di antara mereka, yang kebetulan pernah satu kelompok dalam dua tugas mata kuliah bersama saya, adalah seorang perempuan yang sudah punya cucu dan telah bekerja sebagai dosen di NHTV Breda University. Dia meminati studi turisme dan merasa perlu belajar tentang aspek etis dalam turisme sehingga dia mengikuti program ini.

Demikianlah. Sejak sebelum berangkat, saya memang telah mencatat bahwa saya belajar di Eropa tidak hanya sekadar untuk menuntut ilmu khusus sesuai dengan jurusan saya. Saya juga ingin sekali belajar tentang bagaimana sistem perkuliahan di Eropa berlangsung. Dan, selama dua bulan di sini, saya sudah belajar banyak hal tentang itu. Mungkin apa yang saya tangkap ini memang masih belum cukup menjadi gambaran yang utuh tentang sistem pendidikan di sini. Akan tetapi, semuanya tampak inspiratif. Beberapa di antaranya ingin sekali saya coba nanti di Indonesia, meski tak musti dilakukan di sistem pendidikan formal.

Saya yakin, dalam rentang sisa waktu saya di sini, saya masih akan belajar banyak hal tentang semua itu-semoga bisa lebih luas, mendalam, dan substantif.

Zeist, 9/11/2009, 8.30

Cerita M Musthafa

Sumber: http://blogs.rnw.nl/pengalamanku/2009/11/11/belajar-tentang-belajar-dua-bulan-di-utrecht-university/

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

Beradaptasi di Negeri Orang

Berbagai persiapan harus dimatangkaan agar tidak mengalami banyak kerepotan di negeri orang.

Fardiansah Noor

KULIAH ke luar negeri tampaknya memang sangat menyenangkan. Kita akan mengenal sebuah lingkungan baru dengan suasana baru juga.windy Dyah Indriantari, karyawan swasta yang baru lulus kuliah dari University of Groningen di Belanda menyarankan, siswa yang akan berangkat ke luar negeri menyiapkan anggaran awal untuk kehidupan dua sampai tiga minggu pertama di lingkungan barunya. Utamanya untuk mencari tempat tinggal dan mengurus administrasi di kampus baru.

Termasuk untuk membuka tabungan di dekat lingkungan kita tinggal. "Akan lebih baik lagi kalau kita sudah menjalin hubungan komunikasi dengan orang di negara tujuan sebelum berangkat," ungkap Windy.Caranya, lanjut peraih rnnster international of business and management itu, bisa saja mengontak anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) cabang terdekat. Jalin komunikasi lewat email karena biayanya lebih murah, tidak perlu melakukan sambungan internasional."Apalagi lewat email, kita sudah bisa bertukar foto dan data yang cukup. Bahkan menjelaskan keinginan-keinginan yang semoga saja bisa dibantu pelajar Indonesia di negara tujuan. Misalnya, minta dijemput di bandara, atau petunjuk jalan menuju rumah sementara, bahkan bisa tinggal sementara dulu dengan mereka sebelum dapat tempat tinggal," tambahnya.

Menurut Windy, terkadang universitas tempat tujuan menawarkan agar siswa tinggal di tempat yang sudah disediakan universitas. Biasanya biaya sewanya sangat murah dan terletak di sekitar kampus."Penting juga untuk melakukan sosialisasi minimal dengan teman-teman satu kelas. Karena biasanya mereka juga bisa memberikan informasi yang memudahkan kehidupan selama kuliah," ujar Windy.Lebih lanjut, Windy menuturkan kesulitan yang ia temui pada awal kuliah. Dia mengakui kesulitan dalam soal bahasa. Terutama bahasa Inggris yang digunakan saat ujian. Agar dosennya tidak salah paham dengan bahasa Inggrisnya, dia pun bersikap ekstra berhati-hati dalam menjawab soal-soal ujian.

"Ini butuh adaptasi selama tiga bulan, kalau enggak begitu, nilai kita bisa jeblok."

Hambatan lainnya adalah masalah beradaptasi dengan pola hidup masyarakat setempat di Belanda. Ketika pindah ke private house dari housing (semacam asrama) yang disediakan universitas, dia terpaksa mengikuti kebiasaan orang Belanda, yakni mematikan heater pada dini hari pukul 01.00. Lalu dinyalakan kembali pada pukul 06.00. Padahal dia terbiasa belajar pada dini hari.Terpaksa deh belajar dengan kaos kaki double. Kalau enggak, gak konsentrasi karena terlalu dingin," ujar Windy.

Berbeda dengan Windy, Ramdham Muahimin, mahasiswa UKM (National University of Malaysia) ini punya pengalaman lain.Dia mengakui tidak ada persiapan khusus sebelum keberangkatan ke Malaysia, kecuali hanya menyegarkan kembali kemampuan berbahasa Inggrisnya. Meski Malaysia memiliki banyak kesamaan dalam hal budaya dan bahasa dengan Indonesia, tapi negeri bekas jajahan Inggris ini menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional kedua. Bahkan di dalam perkuliahan pun lebih sering menggunakan bahasa Inggris.

Dia menambahkan, rata-rata kampus di Malaysia memiliki koleksi buku, jumal, kliping media, audio, ataupun video yang cukup lengkap. Bahkan perpustakaan UKM diakui paling lengkap di Asia Tenggara.Mudahnya fasilitas yang disediakan UKM, membuat Ramdhan tidak terlalu pusing mengatur keuangannya atau mencari tambahan biaya. Ia bisa membiayai studinya dari honor periset dan sebagai koresponden sebuah media online di Indonesia. (S-l)fardiansah@mediaindonesia.com

Ringkasan Artikel Ini

Beradaptasi di Negeri Orang. Windy Dyah Indriantari, karyawan swasta yang baru lulus kuliah dari University of Groningen di Belanda menyarankan, siswa yang akan berangkat ke luar negeri menyiapkan anggaran awal untuk kehidupan dua sampai tiga minggu pertama di lingkungan barunya. "Akan lebih baik lagi kalau kita sudah menjalin hubungan komunikasi dengan orang di negara tujuan sebelum berangkat," ungkap Windy. Misalnya, minta dijemput di bandara, atau petunjuk jalan menuju rumah sementara, bahkan bisa tinggal sementara dulu dengan mereka sebelum dapat tempat tinggal," tambahnya. Menurut Windy, terkadang universitas tempat tujuan menawarkan agar siswa tinggal di tempat yang sudah disediakan universitas. Meski Malaysia memiliki banyak kesamaan dalam hal budaya dan bahasa dengan Indonesia, tapi negeri bekas jajahan Inggris ini menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional kedua.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Meraih Cita-cita Di Negeri Belanda

Andik



Mungkin ada beberapa diantara kalian yang sedang mempertimbangkan kira-kira kemana "jujugan" kamu untuk kuliah setelah lulus SMA atau mungkin ingin ambil S2 atau S3, tapi kemudian bingung dengan berbagai macam perguruan tinggi yang ada di Indonesia saat ini. Atau mungkin ada juga diantara kalian yang merasa gak cukup puas dengan perguruan tinggi di Indonesia? Wajar juga sih, sarjana yang nganggur di Indonesia bejibun. Nah di Abad high-tech macam kayak sekarang ini, stop hanya melihat sekitar kita aja, coba deh perluas cara pandang kalian. Hmm gimana kalau kuliahnya di luar negeri aja??!
Eiitt jangan bilang kalau yang bisa kuliah di luar negeri cuma Acha Septriasa aja, anything possible koq asalkan kita ada niat dan semangat untuk mewujudkannya.


Kendala Kuliah Di Luar Negeri
Kuliah di luar negeri memang identik dengan biaya kuliah yang tinggi belum lagi kendala bahasa. Syarat menguasai bahasa Ingris memang sudah tidak bisa di tawar2 lagi, karena Cuma dengan bahasa Inggris kita bisa berkomunikasi dengan masyarakat dunia. Tapi kalau kuliah di luar negeri biaya tinggi tidak terjangkau alasan ini tidak selalu benar.
Kuliah S1 di Negeri Kanguru alias Australia, kamu harus merogoh kocek antara 108-269 juta per tahun untuk s2 berkisar 126-314 juta per tahun, kuliah S1di Inggris dalam satu tahun rata-rata menghabiskan
130-445 juta per tahun sedangkan S2 berkisar 131-427 juta per tahun. Jangan keburu pingsan dulu deh, infonya belum selesai nich!
Dua negara diatas memang favorit sebagai tujuan pelajar Indonesia, tapi biaya yang dikeluarkan emang terlihat "insane". Lalu ada gak negara yang biaya kuliahnya terjangkau? Jawabnya Belanda.

Belanda, favorit baru tujuan belajar

Keliling Kota Naik Trem


Belanda memiliki keterkaitan historis dengan negara kita Indonesia, dan sekarang Belanda menjelma menjadi salah satu negara maju yang memiliki penguasaan yang baik terhadap ilmu dan teknologi. Kuliah di Belanda bukan barang baru bagi sebagian pelajar dari Indonesia dan dewasa ini Belanda juga semakin membuka diri terhadap pelajar dari seluruh dunia sehingga Belanda layak disandingkan dengan Negara-negara seperti Amerika, Inggris dan Australia. Kuliah di Belanda relatif lebih murah daripada kuliah di negara maju lainnya, untuk S1, butuh biaya Rp34–102 juta per tahun dan S2 Rp73–219 juta per tahun. Menarik bukan?


1001 Alasan Berkuliah di Belanda
Ada banyak alasan buat kamu untuk mempertimbangkan Belanda sebagai Negara tujuan belajar :

Salah satu gedung di sudut Negara Belanda


1. Pendidikan tinggi Belanda bereputasi Internasional

Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang pernah studi di universitas atau institusi pendidikan tinggi Belanda memiliki kinerja yang sangat baik di manapun mereka berada. Untuk negara kecil seperti Belanda, orientasi internasional, termasuk pendidikan dan pelatihan merupakan keharusan untuk dapat bertahan di tengah arus dunia yang semakin internasional.

2. Belanda Negara Multikultural
Masyarakat Belanda begitu heterogen karena selama berabad-abad berbagai jenis suku bangsa telah tumbuh dan berkembang disana. Bahkan warga kota Amsterdam 40% adalah pendatang dari negara lain. Kondisi ini membuat masyarakat Belanda sangat terbuka dengan perbedaan dan memungkinkan kita untuk mudah melebur dan beradaptasi dengan lingkungan baru disana.

3. Tidak Perlu Menguasai Bahasa Belanda
Kalau kuliah di Jerman atau di Jepang mewajibkan kita untuk bisa berbahasa nasional mereka, hal ini berbeda dengan Belanda. Belanda merupakan negara non berbahasa Inggris pertama yang menawarkan program studi berbahasa Inggris. Lebih dari 1300 program studi internasional untuk berbagai bidang ditawarkan oleh pendidikan tinggi Belanda.


4. Biaya Hidup yang lebih murah
Biaya hidup di kota Amsterdam dan kota-kota lain di Belanda lebih rendah dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di dunia seperti New York, London, Paris dan Beijing.

Dari Belanda bisa kemana-mana keliling Eropa


5. Letaknya di tengah Benua Eropa
Artinya sangat memungkinkan kita untuk menjelajah keliling Eropa. Brussels, Paris, Berlin bisa ditempuh dengan menggunakan kereta api. Atau mau nonton pertandingan liga Spanyol di Madrid? Cukup penerbangan singkat dari Amsterdam. Kerja sama Belanda dengan 15 negara lain di Eropa memungkinkan kita untuk berpergian lintas negara tanpa harus mengurus visa. Asik kan!?

6. Negara Tujuan Beasiswa
Di Belanda kita akan menemui banyak saudara-saudara setanah air maupun juga sesama pelajar sehingga akan mempercepat adaptasi kita. Terlebih lagi di Belanda banyak juga restoran Indonesia sudah tersebar luas.Ini semua membuat kita seperti ada di kampung halaman, Indonesia.

7. Negara Tujuan Wisata
Belanda adalah negara yang memiliki banyak tempat-tempat menarik dan merupakan favorit pelancong dari seluruh dunia. Jika singgah di Kota Den Haag akan dijumpai gedung parlemen disana. Selain itu anda dapat mengunjungi pantai Scheveningen yang selalu dipadati pengunjung dimusim panas, juga anda dapat melihat miniatur Negeri Belanda di 'Madurodam '.

Jadi Bagaimana makin terpikat untuk studi di Belanda? Oke sebelum kamu berangkat kuliah di luar negeri ada baiknya kamu baca dulu tips berikut agar bisa berkuliah dengan aman dan nyaman:

Siapkan Mental dan Kemampuan Memasak
Kedua persiapan ini tidak kalah penting daripada persiapan terkait biaya. Bagaimana pun juga dengan studi di luar negeri maka kita akan dihadapkan dengan situasi yang baru dan berbeda. Kita telah menjadi bagian dari komunitas global. Namun kita tidak perlu minder, mengingat sebenarnya kita semua memiliki kemampuan yang sama dengan pelajar-pelajar negara lain.Selain itu penting juga untuk membekali diri dengan kepintaran memasak, mengingat dengan memasak makanan sendiri kita tidak perlu repot mencari restoran yang sesuai dengan lidah kita plus kita juga bisa berhemat.

Selamat Menjadi Bagian dari Komunitas Global Dunia...

Image Source:
[1] gardaguru.blogspot.com
[2] Javier Herranz di www.panoramio.com
[3] hovfijver di www.panoramio.com
[4] Map Holland di www.earth.google.com

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Persiapan Tinggal di Belanda

February 26, 2008 by 5394

Pastikan menyediakan waktu cukup untuk persiapan studi ke Belanda. Anda sebaiknya mulai merencanakan semuanya setahun sebelumnya atau lebih awal lagi. Ingat bahwa tahun akademi di Belanda dimulai pada bulan Agustus dan berakhir bulan Juni tahun berikutnya.

Informasi mengenai visa, ijin tinggal , asuransi, certification evaluation, tempat tinggal dan lainnya di Belanda

Visa

Visa dan Ijin Tinggal
Untuk masuk ke Belanda, setiap warga negara manapun membutuhkan MVV (Machtiging tot Voorlopig Verblijf, atau MVV) atau “ijijn tinggal sementara” danvisa masuk Belanda. Anda harus mengajukan permohonan jauh sebelum berencana pergi ke Belanda. Visa akan dicap di paspor Anda di Kedutaan Besar Belanda atau konsulat Belanda. Untuk tinggal kurang dari tiga bulan dibutuhkan VKV (Visum Kort Verblijf) atau ‘visa tinggal singkat’ tergantung kebangsaan Anda. Jika Anda akan tinggal lebih dari tiga bulan, diperlukan ‘ijin tinggal sementara’ (Machtiging tot Voorlopig Verblijf, atau MVV).

Prosedur Permohonan


Prosedur permohonan untuk MVV dapat memakan waktu tiga sampai enam bulan. Universitas/institusi di Belanda dapat mengajukan permohonan atas namaAnda dengan menggunakan prosedur `jalur cepat’. Namun untuk melakukan hal ini, universitas tersebut harus memberikan jaminan kepada pihak berwenang yang ditanda-tangani atas namaAnda. Tidak semua universitas di Belanda bersedia melakukan hal tersebut, tapi jika bersedia, maka mereka akan mengajukan beberapa persyaratan tertentu seperti bukti keuangan. Tidak ada salahnya bila Anda menanyakan prosedur jalur cepat kepada universitas tersebut. Lewat prosedur ini Anda dapat menghemat waktu dan tenaga. Biaya administrasi pengurusan MVV sebesar 433 euro apabila Anda mendaftar sendiri dan 250 euro apabila universitas di Belanda yang mendaftarkan MVV atas nama Anda.
Harap diingat bahwa prosedur imigrasi dapat berubah tiba-tiba. Di tahun 2008 prosedur ’jalur cepat’ kemungkinan akan menjadi satu-satunya cara untuk memperolah MVV. Prosedur biasa dimana anda mendaftar sendiri kemungkinan tidak akan menjadi pilihan lagi.

Ijin Tinggal dan Kerja

Dalam waktu tiga hari setelah tiba di Belanda, semua warga negara asing wajib mendaftarkan dirinya di kantor pemerintah daerah setempat.

Mereka yang ingin menetap di Belanda lebih dari tiga bulan wajib memiliki ijin tinggal (Vergunning tot Verblijf, VTV). Biaya administrasi pembuatan VTV adalah sebesar 433 euro apabilaAnda juga membutuhkan MVV.

Ijin Kerja

Bagi mahasiswa dari negara-negara di luar Uni Eropa, yang harus mengikuti praktek kerja atau magang sebagai bagian dari program studinya di Belanda tidak perlu lagi mengurus ijin kerja. Namun demikian diperlukan perjanjian/kontrak praktek kerja antara perusahaan dan universitas dimana pelajar tersebutstudi. Apabila Anda studi di negara asal dan datang ke Belanda untuk magang atau praktek kerja, Anda tetap membutuhkan ijin. Pimpinan perusahaan tempat Anda akan bekerja atau magang harus mengajukan permohonan tersebut bagi Anda. Ijin tersebut juga diperlukan bila ingin bekerja sambil studi. Ada dua pilihan apabila Anda ingin bekerja sambil studi, kerja paruh waktu selama 10 jam tiap minggu sepanjang tahun atau kerja penuh hanya di bulan Juni, Juli dan Agustus. Apabila Anda telah menyelesaikan studi di Belanda, Anda boleh mengurus ijin tinggal untuk bekerja. Informasi lengkap mengenai prosedur pengurusan dapat dilihat di website www.nuffic.nl/immigration.

Asuransi

Undang-undang Belanda mewajibkan semua orang yang tinggal di negara Belanda harus memiliki asuransi kesehatan.

Mahasiswa harus mendaftarkan diri pada salah satu perusahan asuransi dan memastikan jaminan asuransi itu memadai. Jika asuransi yangAnda miliki dari negara asal memberikan pertanggungan penuh untuk biaya medis dan tanggung jawab hukum saat berada di Belanda, maka Anda harus membawa surat pernyataan dalam bahasa Inggris yang menerangkan hal-hal yang ditanggung asuransi. Jika pertanggungan yangAnda miliki tidak cukup, Anda akan diwajibkan mengambil sebuah polis asuransi. Dalam beberapa situasi misalnya apabila Anda memperoleh pekerjaan di Belanda, atau praktek kerja yang dibayar, Anda diharuskan untuk mengikuti skema asuransi kesehatan Belanda. Dekan mahasiswa di universitas yang dituju dapat memberikan informasi lebih lengkap.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai semua prosedur ini, silakan kunjungi situs www.nuffic.nl/pdf/service/factsh/health-insurance.pdf.

Pertanggungan asuransi dapat menutup biaya kerusakan atau kehilangan yang disebabkan oleh ketidaksengajaan Anda mencelakakan orang lain. Asuransi jenis ini mungkin tidak ada di negara-negara lain, tetapi bisa saja Anda akan menemukan masalah apabila saat Anda di Belanda, Anda tidak sengaja merusak benda milik dan Anda tidak memiliki jenis asuransi yang tepat untuk mengganti kerugian tersebut.
AON dan Lippmann keduanya menawarkan paket asuransi untuk pelajar internasional yang mencakup pemeliharaan kesehatan, perawatan gigi, biaya dan bantuan yang luar biasa (exceptional costs and assistance), kecelakaan, liability, bantuan hukum dan kehilangan bagasi.
Informasi lebih lengkap lihat di website www.ips-lippmann.com dan www.myaon.nl/students

Tempat Tinggal

Hasil survey mengenai biaya hidup di dunia menunjukkan bahwa biaya hidup di kota Amsterdam lebih rendah dibandingkan dengan kota-kotabesar lainnya di dunia seperti New York, London, Paris dan Beijing.

Tempat Tinggal
Jika berpartisipasi dalam program pertukaran mahasiswa atau terdaftar di program studi internasional, kemungkinan besar Anda akan disediakan akomodasi. Terimalah segera agar tidak menyesal dikemudian hari!.Mencari tempat tinggal di negara sepadat Belanda tidaklah mudah. Umumnya, mahasiswa Belanda mencari kamar sewaan di lingkungan swasta. Kamar sewaan seperti ini biasanya kosong dan tidak memiliki perabot. Fasilitas dapur dan kamar mandi digunakan bersama. dengan mahasiswa lainnya. Sewa rumah umumnya untuk jangka waktu minimum enam bulan atau satu tahun. Sebelum berangkat, sebaiknya tanyakan kepada pihak universitas/institut apakah merekaakan menyiapkan akomodasi.

Biaya Hidup
Survey terakhir mengenai biaya hidup di dunia menunjukkan bahwa biaya hidup di Amsterdam lebih rendah dibandingkan di kota-kota seperti New York, London, Paris dan Beijing. Biaya hidup di Belanda bagi mahasiswa asing berkisar antara 700 euro sampai 1000 euro per bulan. Biaya ini mencakup biaya hidup sehari-hari serta biaya pendaftaran dan kuliah.Anda tidak dapat mengandalkan tambahan dana setelah tiba di Belanda. Universitas/institut tidak memiliki dana untuk membantu para mahasiswanya.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Pilih Kuliah di Luar Negeri atau Dalam Negeri (2)

03 Jun 2008

Kuliah Sambil Bekerja BANYAK pelajar Indonesia yang ingin sekali melanjutkan kuliah di luar negeri.Masing-masing negara memiliki karakteristik berbeda.Alasan utama karena kualitas pendidikan yang lebih baik.

Konsultan pendidikan internasional dari ANZ, Mimi Ang, mengatakan, secara umum, kualitas pendidikan di luar negeri, terutama Amerika Serikat (AS), Eropa,Australia, dan beberapa negara maju di Asia memang lebih baik dibandingkan Indonesia.

“Secara umum lebih baik, tetapi ada juga perguruan tinggi yang peringkatnya di bawah perguruan tinggi yang maju atau elite di Indonesia,”katanya. Mimi mengungkapkan, negaranegara seperti Australia, Selandia Baru, Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat masih menjadi pilihan utama pelajar Indonesia untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri.

Salah satu penyebabnya karena bahasa Inggris adalah bahasa asing yang diajarkan di kurikulum sekolah Indonesia sehingga kendala bahasa relatif lebih mudah diatasi. “Ini berbeda dengan beberapa negara, seperti Jerman yang menggunakan bahasa Jerman,”katanya.

Karena kendala ini, beberapa negara-negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar kuliah kini sudah mulai menggunakan bahasa Inggris, salah satunya Belanda.Meski belum semuanya, namun sejak 1998, negeri kincir angin itu sudah menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Salah satu negara favorit untuk melanjutkan kuliah adalah Australia.

Mimi menjelaskan, satu penyebabnya adalah Australia yang relatif dekat dengan Indonesia dibanding negara berbahasa Inggris lain. “Ini membuat home sick mahasiswa Indonesia atau orangtua yang ingin mengunjungi anaknya relatif bisa teratasi,” katanya. Untuk menyelesaikan kuliah S1 di Australia dibutuhkan waktu rata-rata 4 tahun dan S2, 1–2 tahun.

Biaya per tahun untuk S1 adalah Rp108–269 juta per tahun dan S2 sekitar Rp126–314 juta per tahun. Itu masih khusus biaya kuliah,belum biaya lain. Dengan biaya itu, pemerintah Australia tampaknya sadar perlu aturan pendukung agar biaya itu tidak membebani mahasiswa.

Aturan pendukung itu adalah pemberian aturan yang lebih longgar soal waktu kerja part time bagi mahasiswa. Jika masa kuliah, mahasiswa hanya boleh bekerja maksimal 20 jam per minggu. Jika liburan,mahasiswa boleh bekerja lebih dari 20 jam per minggu. Biasanya, upah kerja part time adalah Rp71.000–134.000 per jam.

Selain itu,pemerintah Australia juga memberikan perpanjangan visa selama 18 bulan bagi mereka yang telah lulus kuliah (baik S1 atau S2). Perpanjangan visa ini untuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk mencari pekerjaan di sana. Di Inggris hampir sama dengan di Australia,namun gelar sarjana dapat ditempuh selama tiga tahun dan gelar master hanya dengan satu tahun.

Gelar tersebut dapat diraih dalam waktu singkat karena sistem yang diterapkan secara intensif sehingga lebihefisiendarisegiwaktudanbiaya. Hanya saja, biaya kuliah di Inggris jauh lebih mahal. Untuk S1 perlu Rp130–445 juta dan S2 Rp131–427 juta per tahun.

Khusus siswa yang belajar minimal enam bulan di Inggris akan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis serta izin untuk mencari kerja paruh waktu (part-time job) maksimal 20 jam per minggu selama masa kuliah dan lebih dari 20 jam selama masa liburan.

Efektif sejak Mei 2006, pemerintah Inggris melalui Prime Minister Initiative (PMI) memberikan kesempatan bagi seluruh siswa internasional yang menempuh pendidikan pascasarjana (S2) di Inggris memperolehizinuntuktinggaldanbekerja secara profesional di Inggris selama 12 bulan tambahan setelah lulus.

Di Belanda,kebijakan untuk kerja part time lebih ketat. Jika di luar musim panas, mahasiswa internasional hanya boleh kerja 10 jam per minggu. Saat musim panas, waktunya lebih panjang, yaitu maksimal 8 jam per hari.Minimnya waktu kerja part time inibertujuanagarmahasiswa internasional lebih fokus ke kuliah mereka.

Sama seperti di Inggris, Belanda juga memberikan perpanjangan visa selama 12 bulan bagi mahasiswa internasional. Perpanjangan ini untuk memberikan kesempatan bagi mereka mendapatkan pekerjaan di sana. Lama waktu studi di Belanda, hampir sama dengan Indonesia, yaitu 4 tahun untuk S1 dan 2 tahun untuk S2.

Hanya saja,keuntungan di Belanda adalah biaya kuliah yang lebih murah. Untuk S1, butuh biaya Rp34–102 juta per tahun dan S2 Rp73–219 juta per tahun. Yan Soesilo dari konsultan pendidikan asing Anzac mengatakan, sebaiknya setiap mahasiswa yang ingin kuliah di luar negeri tidak hanya menentukan pilihan berdasarkan biaya saja.

Pertimbanganlain,sepertijarak, juga jurusan yang diambil juga dipertimbangkan.“ Jurusan itu penting karena di tiap-tiap negara itu ada spesialisasi, atau mereka itu paling jago pada bidang-bidang tertentu,” ungkapnya.

Belanda, misalnya terkenal dengan hukumnya. Yang harus dipertimbangkan juga adalah kemudahan mobilitas.Seperti di Belanda,mahasiswa yang kuliah di sana tidak perlu diributkan dengan persoalan visa untuk bepergian ke negara-negara lain.

Belanda dan 15 negara lain telah membuat kesepakatan Schangen di mana mereka bisa bepergian ke negaranegara itu tanpa mengurus visa baru.Kemudahan ini memberikan kesempatan untuk menjelajah Eropa dan berkenalan dengan peradaban mereka.

Siapkan Mental dan Kemampuan Memasak

MELANJUTKAN kuliah ke luar negeri, tentu perlu persiapan. Selain kesiapan biaya dan mental, kemampuan memasak ternyata memegang peranan penting.

Berliana Gressy Septianti, 27, yang kini menjadi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mengaku kesulitan beradaptasi dengan makanan saat kuliah di Australia. Makanan di sana terasa aneh di mulutnya.

“Saya tidak tahu, semua makanan itu terasa aneh saja di mulut. Saya sudah coba paksa, tetap saja tidak bisa. Jadi saya cukup lama melawan lapar,” kata Gressy lalu tertawa. Gressy waktu itu mendapatkan beasiswa master dari Ausaid untuk berkuliah di Curtin University, Perth, Australia, selama 2 tahun.

Persoalan makanan ini cukup mengganggunya sebab dia mengaku orang yang doyan makan. Sialnya, Gressy mengaku tidak bisa konsentrasi penuh jika perut sedang kosong. “Bukan persoalan uang. Kalau uang, kita bisa dapat uang dengan mudah di Australia. Tetapi, kalau makanan tidak cocok, buat apa juga punya uang,” kilahnya. Karena terdesak situasi, Gressy pun terpaksa belajar memasak.

“Saya terpaksa belajar memasak. Kalau tidak, saya tidak bisa survive di sana,” tuturnya. Berkat kuliah di Australia, perempuan asal Malang ini mengaku kini lumayan mahir memasak. Hampir semua masakan Indonesia bisa dibuatnya. Sekarang dia tengah memperluas kemampuan dengan memasak masakan Italia, Meksiko, juga Spanyol.

Pentingnya kemampuan memasak juga dilontarkan Silvia Yulianti yang sedang menyelesaikan studi magisternya di kampus Unesco – IHE, Delf, Belanda. “Benar sekali itu, kemampuan memasak harus kita asah sebelum pergi. Itu sangat membantu sekali,” katanya.

Sama seperti Gressy, Silvia yang mendapatkan beasiswa StuNed juga mengaku tidak bisa memasak saat berangkat ke Belanda. Tetapi, berkat keterpaksaan di Belanda, dia kini mengaku bisa memasak.

“Mungkin saya harus ke Belanda dulu biar bisa memasak,” katanya. Selain menyelamatkan dari rasa lapar, kemampuan memasak itu ternyata juga bisa menekan biaya hidup. Menurut Silvia, dengan memasak, setidaknya bisa berhemat antara 30%–40% per bulan. Biaya hidup di Belanda sendiri rata-rata Rp9–13 juta per bulan.

“Lumayan, selain berhemat kita juga mendapatkan keahlian baru,” tukasnya. Keduanya sepakat bahwa persiapan mental penting untuk kuliah di luar negeri. Sebab, di sana, mereka akan dipaksa untuk mandiri. Persiapan mental ini juga penting untuk menghadapi lingkungan baru dengan beragam orang dari berbagai macam latar belakang budaya yang berbeda-beda.

Hanya saja, Gressy menyarankan agar mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri tidak merasa minder atau rendah diri bahwa mereka tidak punya kecerdasan yang sama dengan orangorang lain.

“Pengalaman saya, kita punya kemampuan yang sama kok. Tidak ada bedanya. Asal kita mau bekerja keras, tidak ada persoalan,” tegasnya. Namun, untuk bisa bersaing dengan baik. Keduanya mengingatkan agar kemampuan berbahasa Inggris benarbenar disiapkan. Tanpa kemampuan ini, semuanya akan sia-sia. “Kalau biaya pasti harus disiapkan. Itu tidak perlu dibahas lagi,” tutup Gressy. (Helmi Firdaus)

Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/pendidikan/kuliah-sambil-bekerja-2.html

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

sekolah (gratis) ke luar negeri: berapa lama persiapannya?

June 25, 2008 · 24 Comments

jika anda berminat melanjutkan sekolah ke luar negeri untuk S1, S2 ataupun S3 (secara gratis), berapa lamakah persiapannya? beberapa orang mempertanyakan hal ini kepadaku

mungkin jawabanku akan coba aku refleksikan dari pengalamanku sendiri dan pengamatanku akan orang-orang dekat.

kalau aku bisa kembali mengulang waktu, mungkin aku akan melakukan persiapannya dari tingkat 2 waktu kuliah. aku sendiri mulai cari-cari info sekolah baru setelah 4 tahun kuliah (satu tahun sebelum lulus), setelah beberapa teman satu angkatanku sudah keterima ke luar negeri untuk S2). dengan persiapanku setelah tahun ke-5 kuliah itu, aku baru bisa berangkat melanjutkan S2 setelah tiga tahun “menunggu”. jadi idealnya menurutku adalah tiga tahun waktu persiapan

mengapa demikian?

ini terkait dengan kita perlu kita mempersiapkan beberapa hal berikut:

  • bahasa, ini sudah pasti. kalau anda sekolah ke english speaking country, seperti Amerika, UK, Aussie, Singapore, New Zealand atau juga negara-negara moderate yang ada program internasional, seperti di Netherlands, Belgia, Denmark, Norway, (Taiwan?), maka hanya English mungkin yang akan anda butuhkan. Tetapi jika anda sekolah ke negara-negara lainnya seperti France, Germany, China, Japan, maka selain English, anda perlu mempelajari bhs setempat. untuk persiapan bahasa selain English, supaya baik butuh waktu yang cukup lama, minimal satu tahun.
  • informasi yg cukup tentang negara tempat belajar. cari info sebanyak-banyaknya tentang negara yang akan anda datangi, termasuk info budaya, makanan-makanan, tempat-tempat wisata dan hal-hal positif lainnya. ini selain menambah wawasan anda, juga akan menambah motivasi anda untuk datang ke sana.
  • informasi yg cukup tentang kampus yg anda datangi. beruntunglah kita hidup di jaman internet. informasi hanya dalam sekejap dapat kita peroleh secara mudah. dulu saya membuat arsip kampus-kampus yang menjadi kandidat untuk di lamar dibagi berdasarkan beberapa kategori. kategori utama adalah negara, sub kategorinya adalah kampusnya sendiri dan departemen yang akan dilamar. selanjutnya sub kategori di bawahnya adalah kontak person yang akan kita kirim email atau lamaran. cari plus-minus dari informasi tentang kampus yang akan anda lamar. ini bisa anda peroleh dengan mengetahui siapa orang-orang indonesia yang pernah atau sedang sekolah di sana.
  • menjalin kontak dengan profesor di kampus yang akan anda lamar. jika anda tidak yakin dengan informasi yang disajikan di website atau brosur yang anda pegang, kirim email ke profesornya. biasanya dia akan membalas. jika tidak jangan kecil hati, kirim email sekali lagi, atau kirim email ke profesor lain di departemen yang sama. posting saya sebelumnya tentang mengontak profesor dapat dilihat di link berikut.

maykoedison // June 30, 2008 at 8:26 am | Reply

blognya sangat menginspirasi..bagaimana jika kita pingin studi keluar negeri, tapi keluarga kita bagimana ? apa ada sponsor yang bisa kita hubungi..mohon informasi..salam hormat bang saut..

Saut said:
halo edison. itu tergantung jenis beasiswanya dan dimana kita tinggal. sebagai contoh di eropa, jika dengan beasiswa master, sepertinya susah membawa keluarga. biaya tempat tinggal / apartemen dan asuransi sangat mahal, jadi hampir tidak sanggup membawa keluarga. sementara itu di jepang, walaupun dengan beasiswa master, bisa bawa keluarga (tapi ya tidak bisa nabung alias pas-pasan). kemudahannya di jepang biaya asuransi dan rumah relatif lebih murah dibandingkan di eropa. jadi mau lanjut kemana?

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


SULITNYA STUDI DI BELANDA!

kompetiblogbadge-neo

AWALNYA GUE KIRA BEGITU, TERNYATA TIDAK…

Hai, gue ErLand.. Saat ini lo lagi baca tulisan gue (Semua orang juga tau kali Land, halah)… Sebelum mempertanyakan judul yang extreme ini, gue mau pengumuman dulu… Ini my 1st Blog, yang juga berarti karya tulis gue yang pertama, pokoknya serba pertama… Kecuali di bidang perfilman indie, karena gue kadang-kadang suka nulis script. (Katanya serba pertama, gimana sih lo Land?)..

Gue mohon maaf untuk judulnya yang extreme ini, semata-mata hanya taktik untuk mencuri perhatian, kan akhirnya juga gue klarifikasi dengan tulisan berikutnya (Parah lo Land, sempat meresahkan banyak masyarakat tuh).. Nah, berikut ini cerita singkat yang panjang lebar tentang pandangan gue menyoal mencoba studi di Belanda, awalnya gue kira sulit, ternyata tidak… (Gimana caranya Land, biar kalimat ini mendarah daging di pikiran kita semua)…

windmolen

windmolen

sumber : foto koleksi pribadi


ADA APA SIH DENGAN BELANDA???…

Kenapa juga gue mau-maunya studi di Belanda, 350 tahun udah menjajah kita, rempah-rempah kita banyak di rampas, bahkan sampai disuruh kerja Rodi… Tapi justru itu yang akhirnya bikin gue jadi berpikir, justru ini mungkin bentuk permintaan maaf dari pemerintahan Belanda terhadap kita orang indonesia yang pernah dijajahnya (Wew, pikiran lo sejauh itu ya Land?)… Mereka kemudian membuka kesempatan secara luas untuk studi di Belanda.

Gue beruntung banget udah pernah ke Belanda sekitar tahun 2003 selama 3 bulan, gratisan di biayai paman sebagai hadiah gue bisa masuk salah satu perguruan tinggi negeri favorit.. Nah, Belanda yang pernah gue kenal dan kunjungi itu merupakan sebuah negara maju dengan budaya multikultur nya yang sangat menarik karena pola pikir masyarakatnya yang sangat free spirited dan open minded! (Cocok banget buat orang-orang yang ekspresif ya Land!)

Di Belanda sampe di sah kan loh perkawinan sesama jenis.. (Jangan sampe lo ikut-ikutan Land, halah-halah..) Nah, macem-macem dong pikiran kita ngebayangin kaya gimana kehidupan orang-orang di Belanda…

Belanda dengan ciri khas kincir angin dan bunga tulip nya ini, menyimpan segudang potensi di bidang ilmu pengetahuan dan banyak menghasilkan pola pikir yang luar biasa. Negara kita saat ini pun mengadaptasikan ilmu hukum pemerintahannya dari Belanda karena kita pernah di jajahnya begitu lama sehingga ilmu hukumnya masih cukup melekat dengan kita. Tidak heran begitu banyak orang Indonesia melanjutkan studinya khususnya dalam bidang hukum di Belanda. (Bantas korupsi di Indonesia! Bilang gitu ke lulusan hukum nya Land!)

Beberapa fakta yang gue suka tentang Belanda :

  • Ada sekitar 16 juta sepeda di Belanda, hampir sebanding dengan jumlah penduduknya. Dan 1 dari 3 orang Belanda tergabung dalam klub – klub olahraga. (Wah, orang Belanda sehat-sehat dan panjang umur semua tuh Land!)
  • Transportasi yang informatif, tertata rapi dan tepat waktu, menjadikannya sangat mudah dan cepat untuk di akses (Katanya dalam sehari kita bisa mengelilingi negeri Belanda memakai kereta loh, keren ya Land!).
  • Pot-pot bunga banyak menghiasi setiap rumah di Belanda, memperlihatkan betapa orang-orang Belanda sangat peka lingkungan dan peduli dengan keindahan (Tidak heran kenapa salah satu ikon Negara Belanda ini adalah bunga Tulip ya Land!).
  • Jumlah museum di Belanda hampir 1000 buah, kepadatan jumlah museum tertinggi di dunia, orang-orang Belanda benar-benar memperhatikan nilai sejarah negerinya (Penasaran abis kan Land, lo kan penyuka seni, karena darah desain mengalir dalam tubuh lo, makin ngiler aja nih)…
  • Inovasi konservasi air nya yang sangat luar biasa, Belanda melakukan reklamasi lahan dengan membangun bendungan terbaik didunia. (Sebuah inovasi teknologi yang sangat mengesankan, alasan kuat banyak orang dari mancanegara tertarik untuk menimba ilmu di Belanda tuh Land)…

Perusahaan serta mereknya yang terkenal seperti Philips, Unilever, Shell dan KLM adalah sederet nama yang tidak asing kita dengar. Lalu orang-orang seperti Vincent Van Gogh, Erasmus dan Rembrandt adalah seniman yang tentunya tidak asing pula dan terkenal hingga mendunia (Tidak heran apresiasi masyarakat terhadap seni begitu tinggi dan sangat di hargai, keren ya Land!?)… Dan termasuk DJ Tiesto yang terkenal itu loh, mereka semua orang Belanda tuh..

kunst

kunst

sumber : foto koleksi pribadi

ORANG BELANDA DENGAN INTELEKTUALNYA YANG TINGGI DISERTAI BUDAYA RAMAH TAMAHNYA…

Waktu gue di Belanda, kebetulan paman gue tersebut memiliki apartemen sederhana, begitu katanya, tetapi setelah gue cermati kategori sederhana tersebut cukuplah mewah untuk kategori orang Indonesia, ahahaha… Gue sering lihat tingkah laku tetangga di sebelah, mulai dari yang ramah sampe yang acuh, tapi umumnya orang tua di sana mayoritas sangat ramah sekali, mereka sangat mudah tersenyum dan memberikan salam.

Terlepas dari status dan profesinya, banyak orang-orang Belanda sangat gemar mengendarai bersepeda, tidak hanya untuk aktivitas olahraga, tapi juga sebagai kegiatan sehari-hari seperti pergi sekolah, bekerja atau bahkan sekedar rekreasi. Dengan pola hidup sehari-hari seperti ini tentunya sangat mendukung pola hidup sehat serta ramah lingkungan.

Budaya masyarakat orang Belanda patut di acungi jempol, mereka sangat mandiri dan teratur, banyak sekali hal baru yang gue temui dan bikin gue terkesan. Untuk pertama kalinya gue belajar isi bensin mobil sendiri dan mencuci mobil sendiri di sejenis Automatic Car Wash gitu. Dan yang lebih menarik terjadi waktu gue lagi makan di sebuah Fast food terkenal bernama McDonald. Nah, ternyata sudah menjadi kebiasaan orang-orang di sana untuk merapikan bekas makanannya sendiri di tempat yang sudah di sediakan, bentuknya seperti meja box gitu, nampan makanan di taruh di atas meja dan bekas makanan di buang di bawahnya masuk ke dalam box.

Sebenarnya di Indonesia juga ada fasilitas seperti itu, cuma sayang orang Indonesia terlalu di manjakan dengan adanya pelayan sehingga inisiatif tersebut kurang. Belum pernah sekali pun gue temukan ada yang berbuat seperti itu di Indonesia, paling cuma gue sendiri, itu pun orang lain banyak yang ngeliatin gue penuh dengan keheranan… (Serba salah kan Land, mau berbuat baik koq malah aneh di mata orang)…

Orang-orang Belanda sangat peduli lingkungan, terbukti melalui pemilahan sampah antara sampah basah dan kering, benar-benar baik. Selain itu teknologi internet juga telah menjadi bagian yang vital disini, tidak perlu repot berbelanja ke supermarket, kita cukup memesannya via internet dan kita hanya tinggal menunggu petugas supermarket mengantarkannya langsung ke depan pintu rumah kita (Duh, di Indonesia kapan bisa begini ya Land)…


PENASARAN INGIN CARI TAU TENTANG STUDI DI BELANDA…

Gue sempat berpikir bahwa untuk bisa tinggal apalagi studi di Belanda, haruslah bisa berbahasa Belanda. Namun apa yg gue pikirkan tersebut ternyata salah, banyak institusi-institusi di negara Eropa khususnya Belanda memfasilitasi studinya dengan bahasa Inggris. (Tidak menguasai bahasa Belanda tidak apa-apa, tapi berarti pastikan bahasa Inggris lo memadai ya Land… Ups!)

Secara umum institusi di Belanda berprofil internasional, banyaknya kegiatan di luar akademis melalui adanya ekstrakulikuler sangat bermanfaat untuk mengisi waktu luang dan semakin memperbesar kesempatan kita untuk banyak mengenal orang-orang baru dari mancanegara. Sehingga akhirnya semakin membuat kita cepat beradaptasi dan nyaman. (Wow, cocok banget buat orang-orang yang aktif berorganisasi dan gemar berdiskusi, jalan menuju pergaulan intenasional nih Land!)

Status antara pengajar dan murid hampir tidak terasa karena adanya atmosfir yang diciptakan pengajar kepada muridnya untuk bebas berekspresif dan mengutarakan pendapatmya. Bahkan ada situasi dimana kita bisa makan siang dengan pengajar kita sambil membahas pelajaran atau sekedar isu aktual di Belanda dan Eropa. Disini pengajar benar-benar menjadi teman yang baik untuk ngobrol (Bisa ga yah kalau ada ujian, lokasinya bukan di kelas, tapi di sebuah cafĂ©… Gokil tuh Land, ahahaha!)

Fakta - fakta dibawah ini semakin menguatkan keinginan gue untuk studi di Belanda :

  • Terdapat lebih dari 1300 program berbahasa Inggris di Belanda.
  • Belanda telah mendapatkan pengakuan internasional sebagai pionir penerapan sistem Problem Based Learning (PBL). Serta sistem pendidikannya yang bersifat interaktif dan fokus pada kerja berkelompok.
  • Sebagian besar masyarakatnya bisa berbahasa Inggris dan bahkan menguasai beberapa bahasa asing lainnya seperti Jerman dan Perancis. (Kondisi ini tidak banyak terjadi di Negara Eropa lainnya).
  • Biaya kuliah relatif terjangkau mulai dari 3500-7000 euro untuk S1 dan 4000-15.000 euro untuk S2 setiap tahunnya dengan biaya hidup ukuran mahasiswa sekitar 700 euro perbulan secara keseluruhan.

Banyak tersedianya kesempatan seperti short course, summer school, serta kongres-kongres internasional. Merupakan wujud dari banyaknya dan mudahnya jejaring internasional terjadi. Tidak heran jika banyak orang mudah go internasional terutama melalui program pertukaran pelajar mancanegara di Belanda.

Bidang ilmu yang menurut gue terdepan dan banyak di minati antara lain :

  • Manajemen dan bisnis
  • Pertanian, terutama teknologi pangan
  • Hukum
  • Seni dan arsitektur

MENCOBA APPLY UNTUK S2 DI BELANDA…

Siapa sih yang nggak pengen studi di luar negeri, apalagi di Eropa dan apalagi kalo dapet scholarship (Ada aja kali Land, yang terlalu nasionalis, ehehe)… Umumnya banyak banget yang melanjutkan studinya keluar negeri dan khususnya ke Belanda setelah menyelesaikan gelar S1 nya di Indonesia dan lanjut untuk menempuh gelar S2 atau S3 (Dan inilah yang saat ini sedang gue lakukan, mohon doa restu… Semangat Land!)

Berdasarkan pengalaman gue, ada 4 cara untuk mencari info tentang studi di Belanda..

1. Info mudah dan cepat dapat diakses melalui internet, dianjurkan sekali langsung browsing ke institusi yang bersangkutan.

2. Info melalui kosultasi langsung dengan pembimbing dari kantor NESO di Jakarta atau Surabaya. Ini cara paling efektif karena langsung dan selalu up to date.

3. Info yang didapat dari Netherland education fair oleh NESO. Cermati baik-baik waktu penyelenggaraannya, mengingat hanya diadakan sekali setahun.

4. Info langsung dari alumnus yang pernah studi di Belanda berdasarkan pengalamannya. Ini juga penting sebagai bahan tolak ukur agar kita lebih banyak referensi info dan mengenal medan tempur sebelum berperang nantinya.

Nah, layaknya kedelai (keledai kale Land! Ahahaha…) yang emang harus jatuh dulu ke lubang baru sadar. Nah, sebelum itu terjadi, ternyata ada beberapa tahapan yang harus di jalani kalo mau lanjut studi S2 di luar negeri :

1. Jauh-jauh hari siapin fotokopi akte, paspor, ijazah dan transkrip. Baik itu yang bahasa Indonesia dan yang udah di translasikan (kecuali paspor), semuanya pastikan udah di legalisir.

2. Pastikan TOEFL atau IELTS, serta GRE/GMAT (Jika di perlukan), skor nya udah memenuhi syarat sesuai persyaratan institusi yang bersangkutan.

Dan berikut ini timeline ideal untuk mendaftar studi di Belanda :

  • September, pemilihan program studi sekaligus mencari info beasiswa bila berminat dan available.
  • Oktober - Januari, persiapan dokumen maupun segala jenis proses tes.
  • Februari - April, memastikan status pendaftaran hingga mendapatkan surat penerimaan (Admission letter).
  • Mei - Juni, Penyelesaian registrasi perkuliahan dan akomodasi selama tinggal di Belanda, terutama visa.
  • Juli - Agustus, persiapan keberangkatan.

NGGAK ADA DUIT! BUTUH SCHOLARSHIP! PLEASEE…

Sebenarnya, kuliah di luar negeri pada umumnya tergolong murah, dibilang mahal karena belum termasuk living cost, akan sangat menolong jika ada scholarship tentunya. Banyak pihak baik itu swasta, pemerintah maupun institusinya itu sendiri menyediakan scholarship terutama untuk orang-orang dari negara berkembang seperti kita dari Indonesia. Namun kesempatannya sangat terbatas dan seleksinya sangat ketat. Scholarship ini selalu di perebutkan calon pelamar hingga ratusan orang (Waduh Land, lo harus berjuang dengan keringat dan darah yaa…)

Ada beberapa scholarship yang available di Belanda dan banyak dikenal orang seperti :

1. Huygens, untuk mahasiswa internasional.

2. StunNed, untuk orang – orang yang bekerja di institusi yang berkaitan dengan pembangunan.

3. NFP, untuk orang – orang yang aktif dalam berorganisasi di 57 negara berkembang yang terdaftar.

4. Erasmus Mundus, untuk mahasiswa internasional yang ingin studi UniEropa.

Ada saran pasti dari gue, sebelum lo lulus kuliah selama itu udah ada kepastian untuk lulus dengan IPK yang memenuhi syarat, kita bisa meminta admission letter sejak dini untuk mempercepat dan memperbesar kemungkinan kita mendapatkan scholarship jika berminat.

(JIKALAU)… HORE! AKHIRNYA GUE MELUNCUR KE BELANDA!

Ada 2 hal yang biasanya menjadikan seseorang dengan finansial terbatas melanjutkan studinya ke Belanda :

1. Syukurlah akhirnya mendapatkan scholarship. Tetapi hati – hati selalu perhatikan apakah scholarship yang kita dapatkan berjenis partial atau full.

2. Nekat pergi dengan dana pribadi, namun bertekad untuk mendapatkan beasiswa segera di semester berikutnya. Cara ini cukup efektif, mengingat katanya kesempatan beasiswa pada saat di sana lebih mudah di dapat daripada mengajukannya dari negara asal. Namun pastikan diri kita siap mental mencari jalannya dan mampu berkompetitif.

Tiba disana kita harus adaptif dengan yang namanya tempat tinggal. Apakah itu asrama yang disediakan institusi atau kamar sewaan yang dipakai bersama. Kita harus membiasakan diri hidup berbagi seperti menggunakan dapur dan kamar mandi bersama (Bukan berarti mandi bareng Land! Mikirnya jangan kesitu dong…)

Termasuk jika kita ingin bekerja sambil studi, saran terbaik adalah part time job selama 10 jam tiap minggu sepanjang tahun atau sekalian memilih full time job di bulan Juni-Agustus (Pada saat libur kuliah tuh, ayo backpack keliling Eropa Land, cihuy!). Namun harus selalu di ingat bahwa untuk bekerja tersebut membutuhkan izin kerja resmi.

Menyoal makanan tidak perlu khawatir dengan orang-orang Belanda yang identik dengan roti gandum, keju, kentang dan sayuran (Jadi inget waktu makan ikan Haring mentah-mentah di Volendam, pengalaman yang spektakuler abis ya Land!) Dengan semakin berpengaruhnya globalisasi terhadap selera makan orang Belanda, saat ini banyak terdapat fast food murah dan enak. Bahkan jika kita ingin berhemat kita bisa membeli bahan makanan sendiri di supermarket terdekat. Apalagi dengan adanya supermarket oriental yang menyediakan makanan khas asia, kita bisa mengkonsumsi nasi atau mie yang udah sangat mendarah daging di lidah kita (Bukannya lidah lo aja Land? Ehehehe)…

CAN’T HARDLY WAIT TO STUDY ABROAD TO NETHERLAND!

Well, pada akhirnya daripada banyak pertimbangan dan penasaran, datang dan alami sendiri deh! Lalu ceritakan dan berbagi pengalaman lo sama semua orang…!

PS. Cerita bakal lebih lengkap dan seru kalo gue udah kuliah disana beneran, mohon doa restunya yaa.. Ehehehe!!!…..

Info diatas banyak didapat dari buku panduan NUFFIC “Study in Holland 2008 - 2009”.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar